|
Ini
baru kejutan. Betapa tidak, Pakta Pertahanan Atlantik Utara
(NATO) yang selama ini lebih berkonsentrasi pada upaya
pengembangan senjata pemusnah termutakhir tiba-tiba tertarik
dengan upaya pencarian kehidupan di luar Bumi, suatu kegiatan
yang selama ini menjadi wilayah kekuasaan para astrobiologis.
Tak tanggung-tanggung, NATO menggandeng NASA untuk
menyelenggarakan NATO
Advanced Studies di Pulau Kreta, pada 29
September - 10 Oktober mendatang. Dalam pertemuan ini para
astrobiologis diharapkan mampu bertukar informasi akan kemajuan
upaya pelacakan kehidupan di luar Bumi selama beberapa tahun
belakangan ini.
Gambar
kanan : robot rover Sojourner sedang mendekati batuan Mars -
diberi nama Yogi - untuk menganalisis kandungan kimianya. Sojourner
diterbangkan ke permukaan planet merah ini dengan tujuan mencari
kehidupan di planet tetangga Bumi yang satu ini (Sumber : APOD)
Pelacakan
kehidupan di luar Bumi selama ini menjadi wilayah fiksi dan
ilmiah sekaligus. Sejumlah ilmuwan tertarik juga dengan Extra
Terestrial Intelegence (ET) yang diperkirakan menghuni sebuah
dunia yang jauh pada gugusan bintang-bintang yang nampak redup
dari Bumi. Pelacakan ET diakomodasikan dengan membentuk proyek
SETI (Search Extra Terestrial Intelegence) yang bersenjatakan
teleskop-teleskop radio raksasa untuk mendeteksi adanya
pulsa-pulsa gelombang radio teratur yang datang dari kedalaman
antariksa, yang bisa jadi merupakan sinyal-sinyal isyarat yang
digunakan ET untuk berkomunikasi jarak jauh dengan sesamanya.
Namun, sejauh ini SETI belum memberikan hasil yang berarti.
Sementara, kalangan astrobiologis mencoba berfikir realistis.
Upaya mereka diwujudkan dengan rangkaian penerbangan antariksa
yang singgah ke planet-planet tetangga Bumi dalam tata surya,
untuk mencari kehidupan yang mungkin terserak di sana. Berbagai
penerbangan antariksa yang diarahkan ke tetangga Bumi sejak
dekade 60-an itu memberikan data bahwa hanya Marslah yanng
memiliki kondisi mirip dengan Bumi dalam beberapa hal, sehingga
perhatian para astrobiologis lebih banyak ditujukan ke planet merah ini.
Berbagai cerita tentang orang Mars - yang terkenal dengan
sebutan little green men - pun terus mengalir.
Gambar
kiri : meteorit ALH 84001 yang menghebohkan dengan adanya kandungan kristal
magnetit yang mencurigakan, yang diperkirakan diproduksi oleh bakteri tempo dulu
di permukaan Mars. Gambar kanan : contoh bakteri penghasil magnetit yang
ekstraterestrial, berdasarkan gambaran Dr. Dennis Bazylinski dari Iowa State
University (Sumber : NASA
press release). Meteorit David
S. Mc Kay dari NASA Austrobiology Institute pada tahun
1996 menimbulkan kegemparan baru setelah ia mengumumkan hasil
penelitiannya tentang meteorit dari Mars, bahwa kehidupan yang
ada di planet merah itu mengambil bentuk yang sederhana dalam
wujud mikroorganisme. Meteorit yang diteliti Kay berasal dari
padang es Allan Hills di Antartika, dimana ditemukan ribuan
meteorit yang tersimpan di lapisan-lapisan es di sini, namun
hanya 13 buah saja yang teridentifikasi sebagai meteorit yang
dilontarkan dari permukaan Mars oleh suatu sebab, misalnya
tumbukan dengan asteroid. Dalam tiap tahunnya diyakini hanya ada
enam buah meteorit Mars yang jatuh ke Bumi Dalam meteorit
berusia 13.000 tahun itu - diberi kode ALH 84001 - ditemukan
rangkaian butiran mikroskopis yang diduga merupakan fosil
sekelompok bakteri. Penelitian
terbaru yang dilansir Mc Kay menunjukkan, dalam meteorit ini
terdapat kandungan magnetit yang identik dengan kandungan
magnetit yang dihasilkan dari aktivitas bakteri pada batuan
Bumi. Kristal magnetit yang berbentuk heksaoktohedral itu
dihasilkan dari presipitasi inorganik dengan ciri khas adanya
kelimpahan unsur-unsur minor semacam mangan atau magnesium. Dari
sini Kay menyimpulkan bahwa aktivitas bakteri era sekarang di
permukaan Bumi sama dengan aktivitas bakteri tempo dulu di
permukaan Mars. Penemuan
Kay disusul dengan misi antariksa NASA yang menggemparkan dunia,
ketika pada 4 Juli 1997 Mars Pathfinder berhasil
didaratkan di lembah Ares Vallis pada permukaan planet yang
ukurannya separo Bumi tersebut. Pada misi tersebut, NASA
menyertakan pula robot rover Sojourner yang berugas
menjelajahi Mars tidak jauh dari lokasi pendaratannya. Dengan
teknologi terbaru, Sojourner mampu menganalisa kandungan
kimia batu-batuan permukaan Mars tanpa harus membawanya ke Bumi.
Misi ini disusul dengan kedatangan satelit Mars Global
Surveyor (MGS) di
tahun 1997 yang berfungsi mengorbit Mars dan melacak kemungkinan
keberadaan air di permukaan Mars. Foto-foto yang dihasilkan MGS
memperlihatkan beberapa kemungkinan keberadaan air yang melimpah
di permukaan Mars di tempo dulu. Kini,
misi antariksa NASA berikutnya telah siap, dengan peluncuran Mars
Odyssey 2001 tanggal 7 April ini.
|
Misi
Antariksa NASA Menuju Mars |
|

Matahari
terbit di Mars |
|
|
|