|
Mars
Odyssey 2001 sedang diluncurkan dengan menggunakan roket Delta II dari
Tanjung Canaveral, Florida (Sumber : NASA) Tepat
pada tanggal 7 April 2001 pukul 11:02 waktu Florida (22:02 WIB), roket Delta
II dinyalakan di Landasan Peluncuran 17 A Tanjung Canaveral, Florida.
Dalam cuaca yang 99 % cerah, Delta II meluncur mulus membawa pesawat antariksa
Mars Odyssey 2001. Roket tiga tingkat
itu selanjutnya membawa muatannya melintasi pantai timur Amerika Utara dan
terus bergerak mengelilingi Bumi, melewati Eropa Barat dan Asia Barat. Di atas
Timur Tengah, roket melepaskan muatannya dalam kecepatan 11,5 km/detik.
Peluncuran tersebut ternyata tidak membawa efek bagi Odyssey, sebab 53 menit
setelah diluncurkan, stasiun kontrol yang berpusat di Jet Propulsion
Laboratory (JPL) - Pasadena,
California - berhasil menerima sinyal pertama dari pesawat. Sinyal tersebut -
yang diterima melalui antena piringan raksasa pada Deep Space Network (DSN)
di Canberra, Australia - mengabarkan bahwa Mars Odyssey berada dalam kondisi
baik."Saya tidak pernah menyaksikan peluncuran yang begitu spektakuler
seperti kali ini ", begitu komentar David Spencer, manajer misi
penjelajahan antariksa Odyssey di JPL."Pesawat berada dalam kondisi yang
cantik dan kita berada pada skala waktu yang tepat", sambungnya. Instrumen
Mars
Odyssey 2001 merupakan misi eksplorasi lanjutan yang dilakukan NASA - dengan
komando berada pada JPL - ke planet merah, menyusul misi-misi sebelumnya.
Dalam empat tahun berturut-turut NASA meluncurkan empat buah pesawat antariksa
ke Mars : Mars
Pathfinder dan Mars Global Surveyor
di tahun 1997 serta Mars Climate
Orbiter dan Mars Polar Lander
di tahun 1999. Kedua pesawat yang diluncurkan tahun 1997 mendapat sukses
besar, Pathfinder berhasil mencatat rekor mengoperasikan kendaraan penjelajah
antar planet yang pertama kali, sementara Global Surveyor sampai saat ini
masih setia mengorbit Mars menyelesaikan misi lanjutannya, memetakan permukaan
Mars dalam 3 dimensi. Namun, sukses ini tidak disusul oleh kedua misi
antariksa terakhir. Kedua pesawat tersebut tidak diketahui rimbanya sesaat
setelah memasuki orbit Mars.
Mars
Odyssey 2001 - diambil dari nama novel Arthur C. Clarke yang terkenal : 2001
: A Space Odyssey - akan menempuh jarak 460 juta km selama 6 bulan sebelum
tiba di Mars. Odyssey dijadwalkan akan tiba di orbit Mars pada 24 Oktober
mendatang. Selama perjalanannya, pesawat ini akan tetap menyalakan
instrumennya untuk melakukan kalibrasi. Ada tiga instrumen ilmiah yang dibawa
Odyssey untuk menganalisis permukaan Mars : Thermal Emission Imaging System
(THEMIS),
Gamma Ray Spectrometer (GRS)
dan Martian Radiation Environment Experiment (MREE).
THEMIS berfungsi untuk mengidentifikasi mineral di permukaan Mars berdasarkan
spektroskopi sinar inframerah, GRS untuk meneliti mineral permukaan berdasaran
spektroskoi sinar gamma dan MREE meneliti radiasi di sekitar lingkungan Mars.
Selama waktu enam bulan ke depan, Odyssey akan menyalakan mesin roket manuver
kecilnya sebanyak 5 kali, untuk mengoreksi jalur penerbangannya ke Mars.
Begitu tiba di tujuan, Odyssey akan menyalakan roket pengerem selama 16 menit
berkekuatan 640 Newton untuk mengurangi kecepatannya sehingga mampu tertangkap
gravitasi Mars. Selanjutnya Odyssey membuka panel suryanya dan memanfaatkan
lapisan teratas atmosfer Mars untuk lebih mengerem laju pesawat - dikenal
sebagai teknik aerobraking. Setelah proses pengereman selesai, Odyssey
akan memulai tugasnya dengan membentuk orbit ellips pada ketinggian rata-rata
400 km di atas permukaan Mars.
Air
Tujuan
missi Odyssey sebenarnya sederhana : melacak keberadaan air di permukaan Mars.
Karena bentuk-bentuk kehidupan - di Bumi - senantiasa berkait dengan air, maka
secara tidak langsung misi Odyssey juga mencoba melacak keberadaan kehidupan
di permukaan planet merah ini. Keberadaan air di permukaan Mars diduga
bukanlah dongengan kosong semata. Pada masa jutaan tahun lalu, diperkirakan
terdapat sebuah samudera atau danau yang besar di permukaan Mars. Sementara
pada beberapa titik - terutama di dekat kerucut vulkanik Mars yang eksotis -
dijumpai pula sejumlah sumber-sumber air panas (gambar
kiri, sumber : NASA).
Sisa-sisa keberadaan air di masa purba Mars ditunjukkan oleh keberadaan
dataran banjir, lapisan-lapisan endapan dan mineral hematite di
permukaan Mars, yang secara gemilang berhasil dipotret oleh Mars Global
Surveyor.
Di
tahun 1998, instrumen spektroskop sinar inframerah yang dipasang pada
Mars Global Surveyor - dikenal sebagai Thermal Emission Spectrometer/TES
- berhasil mendeteksi deposit hematite substansial ang berada di dekat
ekuator Mars. Deposit selebar 500 km ini dinamakan "Hematie Site"
atau Sinus Meridiani (gambar
kanan, sumber : NASA).
Menurut Victoria Hamilton, planetari geologis dari Arizona State University
yang menganalisis temuan ini, keberadaan hematite coklat ini merupakan
pertanda yang sangat kuat bagi keberadaan air di permukaan Mars. Deposit ini
sendiri cukup tua, diperkirakan sudah berumur beberapa ratus juta tahun atau
lebih dan sekarang terekspos ke permukaan akibat erosi angin. Dalam misi
Odyssey, Sinus Meridiani menjadi salah satu target yang menarik.
Mineral
hematite (Fe2O3) merupakan salah satu senyawa besi
oksida - yang berlimpah di permukaan Mars dan menimbulkan warna kemerahan pada
permukaan planet ini - yang berwarna keabu-abuan dan terdeposit di sekitar
sumber air panas. Meskipun memiliki rumus kimia yang sama, hematite coklat
memiliki struktur kristal yang berbeda dengan mineral besi oksida lainnya.
Besi oksida berwarna kemerahan bersifat halus dan berbentuk serbuk dengan
butir-butir berukuran beberapa ratus nanometer sampai beberapa mikron.
Sementara kristal hematite coklat berukuran lebih besar seperti butiran pasir.
Untuk mendapatkan butiran kristal yang besar ini, maka dalam proses
pembentukannya dibutuhkan sejumlah besar air sebagai syarat utamanya.
Penemuan
Mars Global Surveyor ini tentu masih cukup jauh untuk dapat dikatakan sebagai
telah ditemukannya tanda-tanda kehidupan di permukaan Mars. Sangat berbeda
dengan situasi pada 6 Agustus 1996, ketika David McKay dan rekan-rekannya
menggemparkan dunia dengan kesimpulan penelitiannya yang berhasil
mengidentifikasi senyawa organik dalam meteorit - ditemukan di padang es Allan
Hills, Antartika, tahun 1984 - yang berusia 13.000 tahun dan diduga berasal
dari Mars (meteorit
SNC, gambar kanan, sumber : SNC).
Fosil senyawa organik tersebt, yang diduga merupakan mikrobakteri, ditemukan
dalam wujud rantai memanjang yang berisi sejumlah butiran. namun, penelitian
ini masih mengundang sejumlah kontroversi, atau seperti kata McKay sendiri,
masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kesimpulan yang
benar.
THEMIS

Perbandingan
unjuk kerja instrumen TES (kiri) dan THEMIS (kanan) dalam memetakan Lembah
Saline di California (sumber : NASA).
Instrumen
THEMIS yang dibawa Odyssey jelas memilki ketajaman yang lebih besar dibanding
TES yang dibawa Global Surveyor. THEMIS mampu membedakan dua buah obyek yang
terpisah pada jarak 100 m, sementara TES hanya bisa membedakannya setelah
berjarak 3 km. Kedua instrumen ini sama-sama bekerja pada spektrum cahaya
inframerah yang dihasillkan vibrasi atom-atom mineral dengan panjang gelombang
5 - 50 mikron. Selain mendeteksi hematite, THEMIS diharapkan juga mampu
mengungkap keberadaan mineral karbonat dan sulfat, yang menjadi kunci penanda
terdapatnya air di permukaan Mars. Hematite sendiri terbentuk oleh air
hidrotermal pada kedalaman tertentu. Resolusi TES yang rendah, menyebabkan
Global Surveyor tak mampu mendeteksi lapisan-lapisan karbonat di permukaan
Mars. Namun, diharapkan THEMIS bisa menemukannya - kalau ada. Sebuah ujicoba
yang dilakukan di Grand Canyon menunjukkan, TES tak mampu mendeteksi lapisan
karbonat didalamnya, tapi THEMIS mampu.
Diperkirakan
Mars masih menyimpan kandungan air di bawah permukaannya, terutama di daerah
kutub yang kondisinya lebih memungkinkan. So, sepertinya tinggal menunggu
kesempatan saja untuk ditemukan oeh mata canggih yang dibuat manusia Bumi.
Mungkin seratus tahun lagi - kalo kita sudah sampai di permukaan Mars - kita
bisa jualan Aqua di sana !
|
|