|

Panorama Mars dilihat dari angkasa, bagian melintang diagonal
berwana kehitaman pada bagian tengah gambar adalah lembah Valles Marineris,
sebuah sistem lembah terpanjang di Mars (Sumber : The Nine
Planets) Mars
merupakan anggota tata surya yang berjarak rata-rata 227,94 juta km dari
Matahari, dengan massa 6,4219 . 1023 kg dan diameternya mencapai
6.794 km. Nama Mars dinukilkan dari mitologi Romawi Kuno yang berarti dewa
perang, sementara orang Yunani Kuno menamakannya Ares. Planet ini mendapatkan
nama demikian dimungkinkan oleh kenampakannya sebagai 'bintang merah'.
Sehingga, Mars telah dikenal sejak zaman prasejarah. Dalam penanggalan Masehi,
bulan ketiga (Maret) merupakan nama turunan dari Mars. Planet kecil ini
memiliki dua buah satelit kecil, Phobos
dan Deimos.
Kanan
: Gunung Olympus Mons di dataran tinggi Tharsis, gunung tertinggi di tata
surya, setinggi 24 km di atas dataran yang rata. Tubuh Olympus Mons membentang
selebar 1000 km, dengan kaldera selebar 80 km (Sumber : MOLA).
Atmosfer
dan Hidrologi
Mars
memiliki titik tertinggi di puncak gunung Olympus Mons - 24 km dari
permukaan rata-rata, sementara titik terendahnya di dasar lembah Valles
Marineris sedalam 7 km. Mars memiliki lapisan atmosfer yang tipis dengan
penyusun utama karbon dioksida (95,3 %), nitrogen (2,7 %), argon (1,6 %),
oksigen (0,15 %) dan uap air (0,03 %). Tekanan udara rata-rata Mars hanya
sebesar 7 milibar ( kurang dari 1 % tekanan udara Bumi), namun variasinya
antara 1 milibar hingga 9 milibar di titik tertinggi dan terendah. Tekanan
udara yang rendah ini mampu menerbitkan hembusan angin yang cukup kuat dan
seringkali diikuti dengan badai pasir yang mampu bertahan berbulan-bulan
lamanya. Orbit Mars
yang cukup elliptik membawa pengaruh pada variasi suhu sebesar 30 o
antara titik terdekat dan titik terjauh Mars. Suhu rata-rata di permukaan Mars
minus 55 o C, namun angkanya bervariasi antara minus 133 o
C (di kutub,saat musim dingin). Kandungan karbondioksida yang kaya menyebabkan
munculnya efek rumah kaca, namun efek pemanasan global ini hanya mampu
meningkatkan suhu Mars sebesar 5 K saja, lebih kecil dibanding dengan yang
teramati di Bumi dan Venus. Dengan suhu permukaan yang rendah, terjadi
pembekuan karbondioksida dengan membentuk lapisan-lapisan tipis yang meluas
selama musim dingin berlangsung. Pada kedua kutub Mars terdapat karbondioksida
beku permanen (es kering) yang berlapis-lapis dengan tiap lapisan merupakan
perpaduan antara es kering dan materi debu gelap yang konsentrasinya
berbeda-beda (gambar
kiri, sumber : PDS). Pada musim panas, tudung es kutub utara mengalami sublimasi
sempurna sementara di kutub selatan tidaklah demikian. Perbedaan ini diduga
disebabkan oleh peubahan iklim yang berhubungan dengan perubahan inklinasi
Mars dalam jangka panjang.Pengukuran yang dilakukan Viking memperlihatkan
bahwa perubahan musiman pada tudung es ini menyebabkan perubahan tekanan
atmosfer global hingga 25 %.
Meskipun
di kutub utaranya terdapat aliran air es hasil sublimasi es kering selama
musim panas, keberadaan air di Mars masih menjadi misteri dan menjadi target
penyelidikan berbagai ekspedisi antariksa ke Mars.
Namun, topografi Mars memperlihatkan tanda-tanda kejadian banjir besar dan
terdapat sebuah sistem sungai yang kecil (gambar
kanan, sumber : Solarviews). Diperkirakan di masa
silam terdapat danau besar atau samudera. Potret yang diambil pesawat
antariksa Mars Global Surveyor memperlihatkan sejumlah
teras-teras berlapis
yang mirip dengan lokasi sedimentasi sungai sebagaimana yang lazim dijumpai di
Bumi. Sistem sungai dan lapisan-lapisan ini diperkirakan dibentuk di permukaan
Mars sekitar 4 juta tahun yang lampau.
Geologi
Dua
buah kerucut gunung berapi raksasa di Tharsis Region pada permukaan Mars
dipotret oleh pesawat antariksa Viking. Kiri : Alba Patera dengan sejumlah
patahan yang melintasinya, dengan bentuk kerucut yang telah diubah oleh proses
vulkanologi dan geofisika. Kanan : Arsia Mons,yang terletak di bagian paling
selatan Tharsis Region. Arsia Mons memperlihatkan kaldera yang lebar dengan
sisi yang terobek dan memuntahkan aliran lava dalam jumlah besar, membentuk
dataran luas disampingnya (Sumber : MOLA).
Planet
ini memiliki inti padat yang tersusun oleh besi dan senyawa besi-belerang
dengan diameter 3.400 km, yang diselubungi oleh mantel batuan cair yang lebih
padat dibanding mantel yang menyelubungi inti Bumi. Data yang diperoleh Mars
Global Surveyor memperlihatkan kerak Mars yang tipis, setebal 80 km di
hemisfer selatan dan menipis hingga 35 km saja di hemisfer utara. Tidak
terdapat tanda-tanda pergerakan horizontal di permukaan - seperti gerak
lempeng tektonik di Bumi - sehingga tidak dijumpai pula pegunungan lipatan.
Namun, Mars Global Surveyor memperlihatkan adanya tanda-tanda aktivitas
tekonisme di awal sejarah Mars. Terdapat tanda-tanda vulkanisme, yang dikenal
dengan vulkanisme titik panas - sama dengan vulkanisme yang membentuk
gunung-gunung di Kepulauan Hawaii. Sumber magma Mars langsung berasal dari
intinya, yang membentuk dataran tinggi Tharsis Region yang berbentuk tameng
selebar 4.000 km pada ketinggian 10 km. Di atas Tharsis Region ini berdiri
kerucut-kerucut vulkanik Mars yang spektakuler. Tiga diantaranya adalah Alba
Patera, Arsia Mons dan Olympus Mons. Gunung-gunung berapi di permukaan Mars
memperlihatkan ketinggian yang spektakuler, disebabkan oleh kecilnya gravitasi
di permukaan Mars dan sifat magma Mars yang pekat. Gunung-gunung berapi ini
ada saat sekarang merupakan gunung mati. Pengangkatan Tharsis Region
menyebabkan retakan pada daerah disekelilingnya dan diperlihatkan dengan
pembentukan lembah Valles Marineris, sepanjang 4.000 km dengan kedalaman
berkisar antara 2 hingga 7 km.
Magnetik
Mars
memiliki medan magnet yang lemah. Pengamatan Mars Global Surveyor
memperlihatkan keberadaan medan magneti ini diperkirakan merupakan sisa dari
medan magnet di masa lampau dan memiliki implikasi pada interior Mars dan
atmosfer Mars pada masa lampau yang diperkirakan mampu mendukung bentuk-bentuk
kehidupan. Posisi Mars yang berdekatan dengan sabuk asteroid menyebabkannya
menjadi sasaran bombardemen asteroid-asteroid raksasa, terlebih lapisan
atmosfer Mars sedemikian tipis sehingga tidak mampu membakar habis asteroid
yang masuk sebagai meteor. Di hemisfer selatan terdapat lembah Hellas
Planitia, yang sebenarnya merupakan kawah tumbukan dengan meteorit,
berdiameter 2.000 km dengan kedalaman 6 km. Akibat tumbukan ini, batu-batuan
Mars terlempar ke atmosfer dan mendapatkan gaya gesek yang kecil karena
rendahnya tekanan udara Mars. Ditambah dengan gravitasi Mars yang kecil,
batu-batu ini mampu terus melayang ke antariksa dan dapat masuk ke Bumi
sebagai meteorit, yang diidentifikasi sebagai meteorit
SNC. Dari meteorit ini
diketahui, ada kemungkinan terdapat bentuk kehidupan masa lampau di Mars.
Sehingga, Mars ibarat planet kembar Bumi, atau dapat dikatakan bahwa Mars saat
ini merupakan miniatur Bumi pada masa-masa awal sejarahnya.
|
|