|

Atas
: panorama di sekitar lokasi pendaratan Mars Pathfinder - sekarang
dinamakan Sagan Memorial Station - dengan topografi disekitarnya, batu besar di
tengah gambar dinamakan Yogi dan menjadi salah satu target penyelidikan
geokimia. Kiri bawah : panorama Mars dilihat dari Viking tahun 1976 dan
kanan bawah : panorama Mars dilihat dari Mars Pathfinder di tahun 1997
(Sumber : MPF, PDS,
NASA).
Mars
telah menawan penduduk Bumi selama berabad-abad. Pada dekade 19 seorang
astronom Italia - Schiaparelli - telah menimbulkan kehebohan besar gara-gara
klaimnya akan penemuan lintasan-lintasan lurus dari kutub ke ekuator Mars
dan disimpulkannya sebagai kanal-kanal Mars. Namun pengecekan selanjutnya
menemukan dugaan Sciaparelli ini tak berdasar. Begitu abad antariksa datang,
Mars segera menjadi target penyelidikan pesawat antariksa antar planet.
Mariner 4 yang mendekatinya tahun 1965 merupakan pesawat antariksa yang pertama kali berkunjung ke Mars,
Sementara Mars 2 dari eks Uni Soviet merupakan pesawat antariksa yang pertama
kali mendarat di tahun 1971. Amerika mendaratkan Viking 1 dan 2 di tahun 1976
dan 1977 dan melakukan sejumlah eksperimen in situ di permukaan Mars. Sesudah
terjadi 'kekosongan' selama 20 tahun, akhirnya pada 4 Juli 1997 Mars
Pathfinder mendarat di permukaan planet merah ini dan melakukan eksperimen
rover antar planet.
Teknologi Dalam
tahun-tahun mendatang, misi-misi antariksa yang diarahkan ke Mars tergolong
cukup padat. Dan ada beberapa teknologi yang digunakan dalam misi antariksa ke
Mars, yang disesuaikan dengan tujuan misi-misi ilmiah dan eksplorasi Mars.
Teknologi tersebut diantaranya :
Mars
Orbiter - mengamati Mars dari ketinggian
Mars
Orbiter bertujuan untuk mengeksplorasi Mars dari ketinggian tertentu - ratusan
km - dengan
berbasis satelit yang mengorbit Mars. Orbiter bermanfaat untuk mendapatkan
pandangan global dalam pengamatan karakteristik geologi dan sistek
klimatologi. Dalam melakukan tugasnya, orbiter masa depan akan dilengkapi
dengan kamera beresolusi tajam (lebih tajam dari yang ada saat ini) sehingga
mampu mengidentifikasi lokasi-lokasi yang menarik secara ilmiah dan menjadi
target bagi penyelidikan permukaan. Orbiter juga harus memiliki kemampuan
untuk mengirimkan potret-potretnya dalam jumlah besar ke Bumi dan mampu pula
berperanan sebagai stasiun relay antara pusat pengendali misi di Bumi dengan
berbagai kendaraan penjelajah yang berlokasi di permukaan Mars maupun yang
melayang-layang di atmosfer. Untuk mendapatkan efisiensi yang lebih tinggi dan
cepat, orbiter akan menggunakan teknik baru untuk mencapai Mars. Di antaranya
teknik aerocapture/aerobreaker, yakni teknik pelambatan/pengereman
orbiter dengan menyinggungkan orbitnya ke lapisan teratas atmosfer Mars
sehingga gesekannya dengan udara Mars melambatkan kecepatan orbiter dan tidak
perlu menggunakan roket pengerem. Sementara, sebagai sistem pendorongnya
sedang dirancang propulsi bertenaga listrik surya yang dapat menggantikan
peran bahan bakar roket - yang mahal dan berat.
Mars
Lander - mencapai permukaan Mars dengan aman
Mars
memiliki permukaan yang terkenal ganas dan penuh dengan ancaman, seperti
keberadaan sistem lembah yang panjang dan dalam, gunung-gunung berapi,
kawah-kawah hasil tumbukan meteorit - besar maupun kecil -,
bongkahan-bongkahan batu dan bukit pasir. Juga masih harus diperhitungkan
keberadaan badai pasir di Mars yang seringkali berlangsung berbulan-bulan.
Untuk mendarat ke permukaan Mars, pendarat musti diperlambat dari kecepatan
20.800 km/jam menjadi beberapa km/jam saja untuk menghindari benturan keras
yang mampu merusak semua peralatan yang dibawa. Misi-misi pendarat akan
memanfaatkan teknologi "smart landers"
yang memandu pendarat untuk mendapatkan ketelitian, lokasi pendaratan yang
menarik secara ilmiah, mengatasi bahaya permukaan dan melakukan manuver guna
menghindari bahaya di menit-menit terakhir. Pendaratnya sendiri dibungkus
dengan kantung udara untuk meredam benturan dengan permukaan Mars. Untuk lebih
menghemat, pendarat akan langsung meluncur menuju permukaan Mars tanpa perlu
mengorbit. Dalam proses memasuki atmosfer Mars, pendarat akan mengeluarkan
parasut pengerem untuk memperlambat kecepatan.
Misi-misi
pendaratan ini juga akan membawa
robot rover - yang lebih kompleks dibanding Sojourner - untuk mempelajari
tanah dan batuan permukaan Mars secara geokimia. Dalam misi Mars 2003
mendatang, sepasang robot rover akan dibawa dan diharapkan mampu bertahan
minimal 10 hari Mars (10 sol). Sebagai catatan, Sojourner - yang dibawa
Pathfinder tahun 1997 - dirancang untuk bertahan minimal seminggu dan
kenyataannya mampu
melanjutkan misinya di Mars selama 6 minggu lebih.
Mars
Driller - eksplorasi bawah permukaan Mars
Mars
pada waktu ini dikenal sebagai planet yang kering. Namun potret-potret Mars
Gloal Surveyor memperlihatkan bahwa di daerah hemisfer utara di masa lampau
pernah dibanjiri air dalam bentuk samudera atau danau yang besar.
Untuk itu di masa mendatang akan dilakukan penelitian bawah permukaan Mars.
Survey radar dengan menggunakan orbiter dapat menembus sejumlah lapisan
permukaan hingga mencapai kedalaman beberapa kilometer. Bila radar
memperlihatkan tanda-tanda keberadaan air, sebuah survey seismik atau gema
elektromagnetik dapat dilakukan untuk memetakan letak deposit air (aquafier)
tersebut. Untuk memanfaatkan air tersebut - jika ada - maka mau tak mau
dibutuhkan pesawat pengebor. Teknologi ini diyakini lumayan sulit, namun harus
dilakukan di masa mendatang untuk mengetahui kemungkinan kehidupan Mars di
masa lalu dan kini serta di masa depan menyediakan air bagi eksplorasi
manusia.
Mars
Glider - balon dan pesawat terbang Mars
Eksplorasi
berbasis orbiter memiliki kelemahan dimana resolusi gambar yang dihasilkannya
umumnya berkisar ratusan meter per pixel, sehingga tak menggambarkan kondisi
mikro. Dengan pendarat pun daya jelajahnya sangat terbatas, sehingga
dikembangkan teknik balon udara dan pesawat terbang. Balon udara dilepaskan ke
dalam atmosfer Mars dan mnggunakan helium. Selama melayang-layang di Mars,
balon mengambil sejumlah potret dan melakukan analisa akan kondisi permukaan
dan atmosfer Mars secara lebih terperinci. Hasil-hasil pengamatannya
dikirimkan ke Bumi lewat orbiter yang berfungsi juga sebagai relay. Hal yang sama juga digunakan
pada pesawat terbang Mars. Bedanya, dengan pesawat daya jelajahnya bisa lebih
jauh dari balon dan pesawat mampu dikendalikan ke lokasi yang dikehendaki.
Beberapa
Kegagalan
Di
balik semua keberhasilan misi-misi ke Mars, cukup banyak juga misi-misi antariksa yang
mengalami kegagalan begitu mendekati planet merah ini. Sebutlah semacam Phobos 2 - wahana
antariksa antar planet terberat yang pernah dikenal - milik eks Uni Soviet
yang hanya sempat mengirimkan sejumlah potret sebelum mati beberapa saat
kemudian di tahun 1988. Selanjutnya menyusul di tahun 1993 NASA kehilangan
Mars Observer yang sebenarnya sudah berada di dekat Mars karena kebocoran
tanki helium, sehingga membuat manuver tak terkendali dan menghilang ke
angkasa. Kegagalan NASA masih berlanjut di tahun 1999, dimana mereka
kehilangan dua pesawat antariksa sekaligus : Mars Climate Orbiter dan
Mars
Polar Lander saat memasuki atmosfer Mars. Yang konyol, dua kegagalan terakhir ini
terjadi karena kesalahan konversi sistem metrik (cgs) ke sistem Inggris (fps) sehingga
pesawat antariksa yang seharusnya menempati orbit beberapa ratus km di atas
Mars masuk ke orbit setinggi 57 km saja. Akibatnya keduanya mengalami gesekan
yang cukup kuat dengan atmosfer Mars dan Ada kemungkinan terbakar. So, peluang kegagalan misi masihlah besar.
Kompetisi
Kini,
memasuki era milenium ini, program balapan ke Mars menjadi semakin semarak.
Walaupun masih terguncang dengan kegagalan tahun sebelumnya, Amerika dengan
NASA-nya masih memiliki ambisi besar untuk menaklukkan permukaan planet merah
yang ganas ini. Di tahun 2001 ini, NASA meluncurkan Mars
Odyssey 2001. Sebagai lanjutannya, pada 2003 mendatang NASA dijadwalkan
akan kembali meluncurkan Mars Exploration Rovers yang membawa dua buah robot
rover sekaligus untuk menjelajahi Mars. Dipersiapkan pula Mars Express untuk
mengumpulkan sampel dari permukaan Mars dan mengirimkannya kembali ke Bumi.
Hitungan pesimistik para ilmuwan memperlihatkan, misi terakhir paling tidak
baru bisa terlaksana 16 tahun lagi.
Di
luar Amerika, Eropa juga tak mau kalah dan melihat Mars sebagai potensi yang
menggiurkan. Di tahun 2003 rencananya negara-negara Eropa dengan ESA (European
Space Agency) siap meluncurkan pesawat pendarat Beagle 2. Namun, Eropa
ketinggalan langkah beberapa tahun dibanding Jepang. Sejak 1998 ISAS (Institute
for Space and Astronomical Science) sudah terlebih dahulu meluncurkan
Planet B (Nozomi) menuju Mars dengan tujuan mempelajari karakter atmosfer Mars
dan hubungannya dengan rotasi Matahari. Hanya, Planet B menempuh jarak yang
lebih panjang sehingga baru tiba di tetangga Bumi ini pada tahun 2004. Berbeda
dengan pesawat-pesawat NASA dan ESA yang rata-rata menempuh waktu 6 - 8 bulan
untuk hinggap di Mars. Dalam hbungannya dengan Bumi, setiap 26 bulan sekali
jarak Bumi - Mars menempati posisi terpendek, sehingga sangat mengefisienkan
waktu dan bahan bakar pesawat antariksa yang menempuh perjalanan Bumi-Mars.
Waktu-waktu tersebut jatuh pada tahun 2001, 2003, 2005, 2007 dan seterusnya.
Kapan
manusia mendarat di Mars ? Belum bisa dipastikan. Hitungan pesimistik
memperlihatkan, dengan kemajuan teknologi yang linier manusia baru bisa
mencapai permukaan Mars 40 tahun mendatang. Walaupun, NASA menargetkan paling
tidak pada tanggal 4 Juli 2012 mereka sudah mendaratkan manusia pertama ke
Mars. Kendala jarak menjadi hambatan yang cukup utama, terutama untuk
mengembangkan sistem propulsi yang pas. Ada usulan untuk menggunakan sistem
propulsi nuklir - dengan memanfaatkan bahan radioaktif Amerisium - 242 - dan
secara teori mampu melipat waktu perjalanan ke Mars menjadi dua minggu saja.
Namun, sejauh ini usulan tersebut masih dikembangkan lagi.
So,
masih ada waktu yang sangat panjang sebelum kita menyaksikan "Neil
Amstrong" mendarat di Mars. Dan, jangan-jangan orang itu justru anda !
Berani ?
|