|
Kanan
: potret berwarna komet C/2001 A2 (LINEAR) yang diambil pada 22 April 2001
oleh astronom Tim Puckett. Komet memperlihatkan bentuk inti yang cemerlang
dengan ekor yang pendek. Pada saat itu belum diketahui bahwa inti komet ini
ada dua, meskipun demikian magnitude komet ini memang berbeda jauh dari yang
diramalkan (sumber : NASA).
Menurut
cerita orang Arab, jika di langit malam sewaktu-waktu muncul cahaya yang
berkelebat atau sebuah bintang berekor, berarti pada saat itu
malaikat-malaikat sedang bekerja menembakkan panah-panahnya gunamengusir
setan-setan yang bergentayangan di langit. Berbeda dengan Aristoteles, yang
menyatakan bahwa bintang berekor alamat pertanda bakal munculnya malapetaka di
muka Bumi. Herannya, selama berabad-abad kemudian dunia
begitu percaya dengan ucapan Aristoteles dan selalu mengait-kaitkan kedatangan
panah-panah malaikat ini dengan berbagai kejadian di Bumi, tanpa menyadari
bahwa dalam tempo setahun saja bisa muncul lebih dari seratus buah panah-panah
malaikat yang baru - belum diketahui sebelumnya [selengkapnya lihat
di sini].
Salah
satu panah malaikat yang sekarang sedang berkelana di langit dekat Bumi dan
begitu menarik banyak perhatian adalah sebuah bintang berekor yang bernama
C/2001 A2 (LINEAR). Komet bernama 'aneh' ini sebenarnya baru saja ditemukan
pada 15 Januari 2001 lalu oleh tim astronom yang tergabung dalam proyek LINEAR
(Lincoln Laboratory Near Earth Asteroid Research projects) dengan
teleskop berdiameter 70 cm di Observatorium Palomar pada magnitude 15,8.
Proyek LINEAR merupakan proyek pemetaan benda-benda langit tak dikenal yang
berposisi di dekat orbit Bumi dan umumnya berupa asteroid dan komet baru.
Sesuai dengan aturan yang berlaku, LINEAR melaporkan penemuannya ke CBAT (Central
Bureau for Astronomical Telegram) dan setelah dianalisis memperlihatkan
bahwa obyek ini merupakan komet berorbit parabolik. Sesuai dengan konvensi,
CBAT memberikan nama C/2001 A2 (LINEAR) untuk komet ini, dimana C menunjukkan
simbol untuk komet parabolik/hiperbolik atau periodik panjang, 2001
menunjukkan tahun penemuan, A untuk dua minggu pertama bulan Januari dan 2
menunjukkan bahwa obyek ini adalah obyek kedua yang ditemukan pada dua minggu
pertama Januari 2001. Belakangan diketahui bahwa obyek ini juga telah
ditemukan - tak dipublikasikan - tim pelacak langit lainnya dalam proyek
LONEOS di Observatorium Lowell pada 3 Januari 2001.
Kiri
: potret komet C/2001 A2 (LINEAR) pada 30 April 2001 oleh C.W. Hergenrother,
M. Chamberlain dan Y. Chamberlain dari Lunar and Planetary Laboratory,
University of Arizona. Potret yang diambil dengan teleskop pemantul 1,54 meter
di Observatorium Steward di Pegunungan Catalina memperlihatkan kepala komet
yang terbelah dua dengan jarak 3,5 detik busur dan memiliki magnitude
yang hampir sama (Sumber : Cometography).
Perhitungan
yang dilakukan Brian G. Marsden dari CBAT memperlihatkan bahwa obyek ini
merupakan komet parabolik dengan titik perihelion 0,78 AU dari Matahari - 1 AU
: jarak rata-rata Bumi Matahari - dan akan tercapai pada tanggal 24 Mei 2001
dengan magnitude maksimal 10. Pada saat itu komet ini tidaklah mendapat
perhatian dan dianggap sama dengan ratusan obyek-obyek lain yang ditemukan
sebelum dan sesudahnya.
Kejutan
baru muncul pada 26 Maret 2001, ketika komet teramati menjadi makin cemerlang
dan makin besar ukurannya. Dalam tempo empat hari kemudian kecemerlangan komet
meningkat pesat menjadi magnitude 5, yang artinya bisa dilihat dengan mata
telanjang. Pada 1 April itu komet teramati mengalami kondensasi inti yang kuat
dengan kepala mengalami difusi yang lemah pada diameter 6 menit busur. Namun
kecemerlangan komet ini berubah lagi ke angka magnitude 8,6 pada 8 April dan
mengalun pada magnitude 8 - 8,5 pada pertengahan April, yang berarti lebih
terang dari magnitude maksimum yang diramalkan sebelumnya. Mendekati akhir
April, komet memperlihatkan kecemrlangan pada magnitude 6.
Memasuki
bulan Mei kejutan tambahan menyusul. Dalam magnitude 6,3 - sedikit di bawah
kemampuan penglihatan mata telanjang - pada 30 April Hergenrother dan
rekan-rekannya melaporkan bahwa kepala komet ini memperlihatkan dua bagian
terpisah yang berjarak 3,5 detik busur dan masing-masing memiliki
kecemerlangan yang hampir sama. Sementara potret yang dihasilkan pada 24 April
belum memperlihatkan fragmentasi tersebut. Segera saja komet ini menarik
perhaian besar, dengan sifat dan tingkah lakunya yang keluar dari perkiraan
semula.
Tata Surya

Atas
: posisi komet C/2001 A2 (LINEAR) - dalam lingkaran merah - di antara gugusan
bintang-bintang di awal Mei. Komet ini mengambil posisi di kaki gugusan
bintang Orion (Waluku) yang nampak di atas horizon barat beberapa jam setelah
Matahari terbenam dan memungkinkan untuk dilihat dari daerah khatulistiwa dan
belahan Bumi utara. Komet nampak bergerak ke selatan dan akan mencapai titik
perihelionnya pada 24 Mei dengan jarak 0,78 AU dari Matahari (sumber : SpaceWeather.com)
Menjadi
sebuah pertanyaan besar, mengapa komet C/2001 A2 (LINEAR) ini bisa bertingkah
laku sedemikian unik ? Sejak lama para ilmuwan menyadari bahwa komet merupakan
anggota tata surya yang masih 'asli', dalam arti tidak mengalami perubahan
semenjak tata surya terbentuk 4,6 milyar tahun yang lalu. Karena itu studi
tentang komet demikian diintensifkan untuk mengetahui kelakuan tata surya pada
masa mudanya. Juga telah diketahui bahwa ada dua macam sumber komet. Yang
pertama, apa yang dinamakan awan komet Oort - berjarak 1,4 tahun cahaya dari
Matahari - yang berukuran sebesar Jupiter dan diyakini sebagai kumpulan jutaan
obyek sebesar asteroid berdiameter beberapa km hingga puluhan km. Obyek-obyek
dalam awan komet Oort bisa keluar dari lingkungannya oleh pengaruh gravitasi
Matahari ataupun bintang lain yang kebetulan melintas didekatnya. Obyek dari
awan komet Oort ini diyakini merupakan inti-inti komet berperiode panjang,
komet parabolik dan komet hiperbolik. Sementara sumber yang kedua terletak di
dalam tata surya sendiri, tepatnya di bangain terluar tata surya dan berada di
sekitar orbit Pluto. Sumber ini dinamakan sabuk Kuiper, merupakan sabuk
asteroid bagian luar yang baru ditemukan pada 1992-1993 dan beranggotakan
asteroid karbon berselimut es berdiameter puluhan hingga ratusan km. Asteroid
ini memiliki orbit takstabil dan oleh pengaruh gravitasi planet-planet besar
ataupun Matahari bisa dilontarkan keluar dari orbitnya dan menjadi komet-komet
berperiode pendek - seperti komet Halley.
Kiri
: potret komet C/1999 S4 (LINEAR) yang diambil dari dua instrumen berbeda,
teleskop daratan dan Hubble Space Telescope. Hubble memperlihatkan
gambaran detail tentang kepala komet yang terdiri dari banyak inti - dinamakan
mini komet - yang memiliki efek akumulatif menghasilkan ekor tunggal (sumber :
HST News)
Kasus
komet berkepala lebih dari satu sebenarnya bukan monopoli C/2001 A2 (LINEAR)
saja. Sejak abad ke-19 dan 20, terdapat komet-komet Biela,
Schwassmann-Wachmann 1,
Schwassmann-Wachmann 3
dan Machcholz 2. Di
tahun lalu, teleskop Hubble merekan komet C/1999
S4 (LINEAR) yang juga memiliki kelakuan spektakuler, dengan kepala yang
terdiri dari banyak inti berukuran beberapa puluh meter. Untuk komet Biela -
periode 6,6 tahun - pada 1846 diketahu bahwa komet ini terpecah menjadi dua
bagian ketika sedang mendekati titik perihelionnya. Di tahun 1852 komet ini
muncul lagi dengan dua bagian terpecah yang terpisah pada jarak 1 juta km.
Penampilan 1852 menjadi kunjungan terakhir Biela.
Radiasi
yang dipancarkan Matahari dalam bentuk angin Matahari merupakan penyebab
terpecahnya komet-komet ini. Inti komet-komet ini diduga tersusun oleh
material yang rapuh, berupa debu-debu karbon yang diikat oleh gaya
gravitasinya masing-masing dan diselimuti lapisan debu dan es. Ketika
mendekati Matahari, lapisan debu dan es terpanaskan hingga menguapdan
membentuk fenomena kepala dan ekor yang cemerlang. Pemanasan ini menyebabkan
inti komet makin rapuh dan tak sanggup menahan tekanan angin Matahari,
sehingga sebagai konsekuensinya ia terpecah-pecah. Masing-masing pecahannya
tetap bertahan pada orbit utama semula, sehingga panah malaikat ini nampak
seperti berkepala banyak.
|